Showing posts with label Goreme. Show all posts
Showing posts with label Goreme. Show all posts

Thursday, July 14, 2016

Solo traveler, ketika si partner menghilang part I

Kami terbangun pukul 4 pagi, dalam keadaan kamar yang masih gelap,kami pun mulai bergerak dengan pelan untuk mandi, berganti pakaian serta membereskan koper dan tas kami, kami tidak ingin mengganggu 2 penghuni kamar lainnya yang masi tertidur pulas, meskipun tadi malam saya sudah meminta izin kepada mereka. Setelah semuanya beres,kami membawa keluar seluruh tas dan koper kami dan meletakkannya didepan pintu kamar, lalu berjalan keluar menunggu jemputan menuju bandara yang sudah kami pesan sebelumnya melalui Hasan. Kami check out tanpa berpamitan dengan Hasan, karena kami tidak ingin mengganggu nya yang masi tidur, kunci kamar saya gantungkan saja di pintu. Tepat saat jemputan kami datang, saya melihat sebuah balon udara mulai terbang naik ke langit Goreme, langit Goreme pagi itu cerah sekali, beberapa balon mulai terlihat menyusul naik, Sakitnya tuh disini !!!!




Karena mobil jemputan kami masi menjemput beberapa penumpang lainnya, saya dan si partner pun mencuri curi kesempatan untuk foto balon udara. Sedih rasanya melihat balon udara itu terbang disaat kami akan pulang, ada sedikit penyesalan didalam hati kenapa saya tidak tinggal 1 hari lagi di Goreme, dan membeli tiket ke Istanbul yang baru, sepanjang jalan menuju Airport di Kayseri kami melihat matahari terbit dan balon2 udara yang beterbangan di langit Goreme, turis asal Jepang yang semobil dengan kami pun ternyata gagal naik balon udara kemarin, ternyata banyak yang nasibnya sama dengan kami :(


Perjalanan menuju Kayseri cukup jauh, sebenarnya ada 2 bandara terdekat dari Goreme, Nevsehir berjarak 40 menit dari Goreme dengan jumlah penerbangan yang lebih sedikit dan tiket lebih mahal sedangkan Kayseri berjarak 60 menit dari Goreme dengan jumlah penerbangan lebih banyak dan harga lebih terjangkau, karena itulah kami memilih penerbangan dari Kayseri. Kami tiba di Kayseri pukul 6.30 hanya tersisa 1 jam sebelum jadwal penerbangan kami, namun antrian pemeriksaan bandara sangat panjang, dan terlihat beberapa penumpang mencoba memotong antrian kami dan petugas tidak mencegahnya. Setelah melewati pemeriksaan kamipun segera berlari menuju counter check in Onur Air yang ternyata antrian nya pun tidak kalah panjangnya, pukul 7 tepat saya sampai dicounter check in setelah menyerahkan paspor dan bukti booking, petugas itu mengembalikan paspor saya dan memberi kode dengan tangan menyuruh saya ke counter lain sambil berbicara dalam bahasa Turki, saya yang tidak mengerti terus bertanya tanpa mau mundur, sebab saya sudah antri dan 30 menit lagi seharusnya pesawat sudah take off, beruntung seorang penumpang dibelakang membantu menerjemahkan, dia mengatakan petugas tersebut menyuruh saya ke counter sales.

Sayapun segera berlari menuju counter sales didekat pintu masuk dan ternyata harus antri juga, saya meminta izin untuk maju terlebih dahulu namun ditolak, setelah berhasil berbicara dengan petugas dicounter sales dia mengatakan saya tidak bisa terbang, karena nama saya hanya 1 kata, WHAT ??? yang bener aja lo !!!
Nama saya memang cuma 1 kata 7 huruf AMEILIA dan saya sudah terbang lebih dari 20 negara tanpa masalah, ketika saya masuk ke Turki pun tidak ada masalah. Jam sudah menunjukkan pukul 7.15 dan petugas di counter sales masi sibuk menelepon, belum ada solusi untuk masalah saya, dan dengan kurang ajarnya seorang lelaki Turki memotong antrian dan langsung maju ke counter sales dan si petugas melayaninya. Si Partner pun mulai ikutan panik, dia kembali ke counter check in dan mengantri disana.
Sayapun tidak diterima dipotong antriannya saya segera menegur petugas tersebut, saya berdebat panjang sambil menunjukkan boarding pass saya ketika datang ke Turki, serta boarding pass penerbangan Istanbul -Izmir yang juga menggunakan Onur Air, semua tidak ada masalah, akhirnya petugas itupun menyerah dan mengatakan "ok i will pass you" , langsung saya berlari menuju ke counter check in lagi, petugas mengizinkan saya check in dan memberikan boarding pass. Tepat pukul 7.25 , 5 menit sebelum waktu take off saya memperoleh boarding pass, segera kami berlari menuju mesin pemeriksaan badan dan langsung menuju gate dan naik ke pesawat, setelah kami masuk pintu pesawatpun langsung ditutup.
FIUH akhirnya kami berhasil juga naik ke pesawat, sambil mengatur nafas kami memasang sabuk pengaman. Saya memilih untuk memejamkan mata sejenak, meredakan emosi di dada serta rasa sakit di kepala.
Entah kenapa banyak kesialan yang terjadi dalam kunjungan singkat kami di Goreme, sebelumnya perjalanan kami sangat mulus.


Rasa panik ternyata membuat kami lupa akan lapar, padahal kami belum sempat makan dan minum sama sekali sejak bangun pagi. Akhirnya pukul 9.30 kami tiba di Ataturk Airport di Istanbul, kami mampir ke supermarket untuk membeli roti dan minuman sebelum melanjutkan perjalanan menuju hotel kami di area Sultanahmet. Dengan Istanbulkart yang kami beli pada hari pertama, kami naik metro menuju Zeytinburnu, kemudian bertukar tram menuju Sultanahmet. Sesampainya di Sultanahmet kami pun bertanya kepada petugas polisi, namun polisi tersebut tidak tau lokasi hotel kami, padahal menurut agoda, hotel kami dekat dengan Blue Mosque, modem wi-fi kami mati kehabisan baterai, tadi malam memang tidak saya charge karena teringat sudah dicharge dimobil, namun ternyata baterainya habis :(

Seorang bapak yang mendengar bahwa kami mencari Harmoni Hotel, langsung menyapa dan menunjukkan arah jalan, ternyata arah yang ditunjukkan itu jauh, lebih dari 2 stop tram dan salah, dia menunjukkan jalan menuju Harmoni Hostel, bukan Harmoni Hotel. Saya sudah sempat ragu dengan petunjuk itu, namun ketika sampai disana saya bertanya dengan petugasnya untuk lebih memastikan, namun dengan kurang ajarnya petugas itu malah menyuruh saya untuk booking dan menginap di hostelnya saja. Setelah meminjam wi-fi hostel tersebut, akhirnya kamipun menemukan arah menuju hotel kami, yang terletak dibelakang Blue Mosque. Akhirnya setelah berjalan hampir 2 jam sambil menggeret koper kami sampai di Harmoni Hotel, kami memutuskan untuk istirahat dan mandi.


Karena lapar, kamipun segera bersiap siap untuk keluar makan dan berjalan2, kami makan siang di salah satu cafe di Arasta Bazaar yang terletak di samping Blue Mosque, makan siang saya kali ini tavuk sis( ayam panggang) disajikan dengan salad, nasi dsn kentang goreng masi ditambah juga roti, lengkap sudah karbohidratnya. Lalu perjalanan dimulai dengan mengunjungi Aya Sofya/Hagia Sophia Muzesi, karena memiliki Turkey Museum Pass kami tidak perlu mengantri, kamipun langsung masuk kedalam. Museum ini dulunya merupakan bangunan gereja, sebelum akhirnya digunakan sebagai masjid dan sekarang dijadikan museum. Bangunannya masi terlihat kokoh dan megah, namun sayang sekali sebagian area tertutup besi2 penyangga, ternyata sedang ada renovasi didalam museum ini. 


Ditemboknya detail lukisan Tuhan Yesus dan Bunda Maria masi terlihat sangat jelas dan terawat, tulisan Allah dalam bahasa arab menempel di dekatnya, untuk melihat lebih jelas sejarahnya kamipun naik kelantai atas, akses jalan dibuat searah, jadi hanya ada 1 akses menuju keatas dan 1 akses jalan untuk turun kebawah.
Selain ruangan utama, terdapat juga ruangan2 kecil lain yang digunakan sebagai ruangan menonton video, menjual souvenir, serta ruangan yang dulunya digunakan sebagai kolam baptisan.


Selesai mengunjungi Aya Sofya, kamipun menuju ke Blue Mosque, karena menggunakan rok pendek, saya dipinjamkan kain panjang untuk menutup kaki, saat masuk kami diharuskan melepaskan alas kaki, tersedia kantong plastik didepan pintu masuk untuk menyimpan alas kaki kami, didalam Masjid tersedia rak untuk meletakkan alas kaki. Ada 2 jalur masuk kedalam Masjid, 1 jalur digunakan bagi pengunjung,ndan 1 jalur lainnya untuk orang2 yang ingin beribadah. Didalam Masjid ini penuh dengan orang, namun suasana tenang tetap terjaga, saya dan si partner hanya duduk saja melihat2 sambil berfoto :D


Selesai berfoto kamipun berjalan keluar, saat akan keluar saya diminta oleh petugas untuk keluar melalui pintu keluar yang 1 nya lagi, karena saya harus mengembalikan kain panjang yang saya pinjam, sayapun segera menginformasikannya kepada si partner yang ternyata tidak didengarkan, si partner pun menghilang atau mungkin juga khilaf mengikuti lelaki Turki. Saya mengitari Blue Mosque sebanyak 2 putaran untuk mecari si partner, sayapun berusaha untuk whatsapp, namun mungkin si partner agak kesusahan mencari internet karena modem wi-fi berada di kantong saya.


Karena tidak berhasil menemukan si partner, saya pun berjalan menuju Istana Topkapi, sambil berharap bertemu si partner disana, karena tadi kami sudah berdiskusi untuk mengunjungi Topkapi setelah Blue Mosque. 


Istana Topkapi ini sangat megah dan luas, ada 2 bagian didalamnya, area Istana Sultan dan Harem. Dari bagian belakang /balkon istana saya bisa melihat Bosphorus. Dibagian taman ditanami banyak bunga mawar, namun sebagian sudah mulai gugur dan rontok. Hampir 2 jam saya mengitari Topkapi, namun si partner tidak terlihat juga. 



Saya mengakhiri kunjungan Di Topkapi dan berjalan menuju Grand Bazaar, setelah berjalan selama 30 menit sayapun tiba di Grand Bazaar dan ternyata toko2nya tutup, sayapun penasaran dan menyusuri lorong2 nya yang sudah mulai sepi, di salah 1 lorong terlihat para pedagang sedang membereskan barang dagangannya dan petugas sedang menyapu bersih sampah, padahal jam baru menunjukkan pukul 5 sore. Ternyata toko2 disini tidak buka sampai malam, sayapun berjalan pulang kearah Sultanahmet. 


Saat tiba di depan Blue Mosque, si partner akhirnya menghubungi saya, dia menunggu di dekat cafe tempat kami makan siang tadi, setelah bertemu kembali dengannya , kami berjalan menuju Eminonu untuk makan malam disana. Sebelum sampai di Eminonu kami mampir ke toko2 souvenir yang kami lewati untuk melihat2 serta membeli beberapa souvenir untuk teman. Makan malam saya malam ini Turkish pasta, terlihat seperti keju yang meleleh diatas ravioli, namun ternyata bukan keju melainkan yogurt turki  yang sangat asam, rasanya agak aneh dilidah saya :(


Selesai makan malam kamipun berjalan kaki lagi menuju Hotel, si partner pulang kehotel sedangkan saya melanjutkan nongkrong menikmati sebotol Efes bir dan suasana malam kota Istanbul dengan Fey :)


Menanti kesempatan kembali ke Cappadocia

Pagi itu saya bangun terlebih dahulu, bahkan sebelum alarm berbunyi, saya segera membangunkan si partner yang masih tertidur lelap. Pagi itu suhu mencapai 6 derajat, rasa dingin luar biasa menggigit ke tubuh, saya memaksakan diri untuk mencuci muka serta menaburkan sedikit make up, agar tidak ketahuan kalo saya belum mandi :D
Saya menggunakan 3 lapis pakaian serta jaket untuk menahan rasa dingin, karena datang saat musim semi menjelang musim panas, saya tidak membawa long john serta sweater tebal, sebab saya tidak menyangka bahwa suhu di Goreme bisa sedingin ini. Dengan hati penuh kegembiraan yang meluap-luap kami menunggu jemputan tour balon udara, tidak lama pintu kamar diketuk, saya membuka pintu dengan wajah penuh senyuman bahagia, namun ternyata ketukan itu bukan ditujukan kepada kami, dia mencari orang lain dikamar sebelah :(


Kami terus dengan sabar menunggu, sebab menurut cerita Anisah dan Tiara kemarin jemputan mereka datang terlambat, namun hari mulai terang, menjelang pukul 5.30  pun naik kelantai atas dan mulai mengetuk pintu kamar Hasan si pemilik hotel, saya ingin menanyakan tour yang seharusnya menjemput kami namun dengan mata yang masi menutup dia hanya berkata mungkin hari ini balon tidak terbang.
APA ?!?!?! GA TERBANG !!!!! sayapun langsung mendumel " Enak aja lo ngomong ga terbang, bukannya bangun dan telepon pihak tour, lo ga tau tujuan utama kami datang tuh naik balon , bla bla bla"
Saya dan si partner langsung kesal luar biasa, karena penasaran kamipun mulai keluar dari hotel, ternyata langit goreme tertutup mendung, dan kami tidak melihat satupun balon udara yang terbang dilangit goreme. PERIH rasanya, sebab mimpi saya untuk melihat matahari terbit dari atas balon udara tidak terwujud T_T
Uang tour balon udara kami memang akan dikembalikan, namun rasa kecewa ini bukan masalah uang namun kesempatan, impian serta harapan kami yang pupus.
Rasa sedih, kesal, emosi campur aduk didalam hati dan pikiran kami, kamipun kembali kekamar dan masuk kembali kedalam selimut dan kemudian tidur.


Pukul 8.30 kami terbangun, kemudian naik keatas untuk sarapan pagi, saya sarapan mie instan Turki yang saya beli di minimarket tadi malam, sedangkan si partner sarapan indomie masi ditambah dengan sarapan dari hostel, hostel in memberikan sarapan yang sama setiap harinya. Hasan menghampiri saya ketika sarapan, dia mengatakan hari ini tidak ada balon udara sama sekali, saya meminta tolong untuk diusahakan balon udara untuk melihat matahari terbenam, namun tidak ada juga. Pupuslah sudah harapan saya untuk naik balon udara di Cappadocia:(


Hasan menawarkan untuk naik balon udara keesokan harinya dengan menunda penerbangan kami kembali ke Istanbul (kami sudah booking penerbangan kembali ke Istanbul untuk besok hari pukul 7.30), ide itu terdengar sangat bagus, sayapun mulai mencari tiket pengganti ,namun ternyata karena akhir pekan tiket lain menuju Istanbul sudah sangat mahal, harga terendah sudah mencapai 100USD (tiket kami dari Cappadocia menuju Istanbul hanya 17USD saat kami booking beberapa bulan sebelumnya), dan tidak ada jaminan besok cuaca bagus, sebab bila cuaca masi mendung seperti hari ini balon udara tetap tidak dapat terbang.
Dengan sedih hati kami memutuskan untuk tetap kembali ke Istanbul besok pagi, mungkin belum rejeki kami saat ini untuk naik balon udara, mungkin nanti kami diberi kesempatan untuk kembali lagi kesini :)


Jadwal kami hari ini mengikuti Green Tour, yang sudah saya pesan melalui Hasan dengan harga 100TL. Namun jemputan terlambat menjemput, ternyata dia lupa, padahal saat kami sarapan dia sudah datang dan menjemput traveler dari New Zealand, Pemberhentian pertama kami adalah Goreme Panoramic, dari sini kami dapat melihat pemandangan lembah goreme dari sisi lain yang ternyata jauh lebih cantik, dan yang menjadi spot foto favorit para pengunjungnya adalah pohon yang digantungi devil eyes dan hiasan balon udara.


Dari Goreme Panoramic, perjalanan dilanjutkan menuju Ihlara Valley, kami berjalan hampir sejauh 2 KM menyusuri lembah Ihlara yang ternyata sangat indah namun sunyi, pohon2 yang rimbun berwarna hijau dibingkai langit biru cerah benar2 menyejukkan mata pengunjungnya, cuaca dingin tidak terlalu terasa karena kami terus berjalan dan mendaki. Si partner yang penggemar bunga serta pohon sibuk memfoto semua pohon yang kami lewati. Di Ihlara Valley terdapat banyak gereja, saya melihat beberapa panah petunjuk arah menuju gereja, namun kami tidak mampir. 


Disini kami berkenalan dengan 2 orang peserta tour ini Akbar dari Pakistan, serta Parth dari India namun berdomisili di New York. Kami pun saling bertukar cerita mengenai perjalanan kami di Turki, serta berbagi pengalaman dan informasi, karena melihat hasil foto saya yang menurut mereka bagus, mereka pun meminta untuk difoto yang dilanjutkan dengan memberikan email dengan pesan foto minta tolong diemail.


Diujung Ihlara kami berhenti untuk makan siang disebuah restoran, makan siang termasuk dalam harga yang kami bayarkan ke tour, namun untuk minuman kami harus membayar sendiri, sebenarnya saat turun dari mobil, supir tour sudah memberikan kami sebotol air minum. Makan siang kami terdiri dari roti, salad dan sup, untuk menu utamanya kami boleh memilih antara ayam, sapi ataupun ikan yang dipanggang dan disajikan dengan nasi Turki.


Selesai makan siang, perjalanan dilanjutkan menuju Selime Monastery yang terletak di Aksaray. Selime Monastery dulunya dipakai sebagai tempat tinggal para biarawan, terdapat berbagai ruangan disini, mulai dari dapur, ruang gereja serta ruang tidur, dll. Untuk naik menuju ruangan tersebut kami harus menanjak naik dipermukaan batu yang tidak rata.
Pemandangan dari atas Selime Monastery sangatlah indah, kami dapat melihat pemandangan kota Aksaray dengan lebih jelas, serta gundukan batu Selime Monastery yang unik seperti goa2 kecil yang saling berkumpul. Diseberang Selime Monastery terdapat makam Selime.


Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Derinkuyu Underground City, yaitu kota dibawah tanah. Sebelum turun kebawah, disamping pintu masuk ada papan peringatan bagi yang memiliki sakit jantung, asma, serta phobia gelap dan ruangan sempit disarankan untuk tidak turun kebawah. Akses jalan menuju kota bawah tanah ini sangat kecil dan sempit, beberapa kali saya harus menundukkan kepala untuk dapat melewatinya, hawanya pengap dengan cahaya yang minim. 
Saat ini sudah banyak lampu2 kecil yang  dipasang untuk menerangi jalan yang dilewati pengunjung, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jaman dahulu kala ribuan orang tinggal didalam kota bawah tanah ini tanpa penerangan sama sekali.


Kota bawah tanah ini memiliki banyak sekali ruangan untuk menampung orang, ada ruang berkumpul, dapur, ruang yang dipakai sebagai gereja, bahkan juga kuburan, ya mereka memiliki kuburan disini, mayat dikumpulkan menjadi satu disalah satu pojokan ruangan.


Selasai kunjungan ke Derinkuyu kami diajak menuju toko perhiasan yang menjual turqoise turki, berbagai jenis aksesoris yang terbuat dari batu batuan tersedia disini, salah satu alasan saya tidak suka ikut tour adalah kami selalu dibawa ke toko2 seperti ini, karena tidak tertarik dan tidak berniat untuk membeli,maka sayapun memilih untuk kembali ke mobil. Saya menitipkan modem wi-fi saya kepada bapak supir untuk di charge di mobil.


Setelah semua peserta tour naik kedalam mobil, kamipun melanjutan perjalanan menuju Pigeon Valley, disebut Pigeon Valley karena disini banyak sekali pigeon yang berkumpul, kita harus melemparkan makanan bila ingin melihat para burung itu terbang, mereka biasanya terbang berombongan.
Dengan berakhirnya kunjungan kami di Pigeon Valley,maka berakhir sudah Green Tour kami hari ini. Supir pun mulai mengantarkan kami satu persatu untuk kembali ke hotel masing2. Setelah sampai di kamar saya baru menyadari modem wi-fi saya masih tertinggal dimobil, dengan panik saya pun kembali merepotkan Hasan untuk menghubungi pihak tour. Setelah 3x telepon dan menunggu hampir 2 jam, akhirnya saya mendapatkan kembali modem wi-fi saya. Terima kasih Hasan yang dengan sabar selalu menolong, dari subuh hingga malam hari sudah saya repotkan namun masi bisa tersenyum dan mengucapkan tidak apa2.


Rasa panik ketinggalan modem wi-fi sekarang digantikan dengan rasa lapar, maka saya dan si partner pun mulai melawan dingin dan berjalan keluar untuk mencari makan. Kami memutuskan untuk makan malam di Silk Road Restoran yang memiliki ruang tertutup dengan penghangat didalam. Kali ini si partner yang tertarik mencoba testi kebab (kebab dalam kendi tanah liat) sedangkan saya memilih untuk mencoba mixed grill yaitu campuran daging ayam,sapi serta sosis yang dibakar dan disajikan dengan nasi serta salad. Meskipun sudah ada nasi, kami tetap diberikan roti, bagi orang Turki makanan pokok mereka adalah roti bukan nasi, jadi makan tidak lengkap rasanya bila tanpa roti.


Berbeda dengan nasi yang saya makan sehari sebelumnya, ternyata nasi disini enak dan pulen, nasi terenak yang pernah saya makan!! salad yang diberikan juga enak dan segar. Si partner juga mengatakan enak, walaupun sebenarnya dia jauh lebih fokus dengan si mas Turki berjaket merah yang melayani kami, sambil makan matanya sesekali melirik manja ke si mas berjaket merah :D


Selesai makan kami tidak langsung beranjak pulang, kami masi duduk2 selama hampir 1 jam karena si partner masi betah, karena ini malam terakhir kami disini dan tidak ada aktifitas lain yang dapat kami lakukan lagi, sayapun menemani si partner untuk khilaf disini. Untungnya restoran sepi, sehingga kami tidak segera diusir :D


Pukul 9 malam kamipun pulang ke hostel, sudah ada 2 orang traveler asal Paris yang mengisi 2 ranjang kosong yang ditinggalkan teman2 kami. Kami segera membereskan semua barang kami, lalu tidur beristirahat, mengistirahatkan badan kami yang lelah serta jiwa kami yang kecewa.
Mimpi kami itu tetaplah menjadi mimpi yang menanti kesempatan lain untuk diwujudkan. 
Tapi jujur saja, jauh didalam hati saya berharap besokpun cuaca tidak memungkinkan untuk balon udara terbang, jadi saya tidak menyesal kembali ke Istanbul :D 





Menanti kesempatan kembali ke Cappadocia

Pagi itu saya bangun terlebih dahulu, bahkan sebelum alarm berbunyi, saya segera membangunkan si partner yang masih tertidur lelap. Pagi itu suhu mencapai 6 derajat, rasa dingin luar biasa menggigit ke tubuh, saya memaksakan diri untuk mencuci muka serta menaburkan sedikit make up, agar tidak ketahuan kalo saya belum mandi :D
Saya menggunakan 3 lapis pakaian serta jaket untuk menahan rasa dingin, karena datang saat musim semi menjelang musim panas, saya tidak membawa long john serta sweater tebal, sebab saya tidak menyangka bahwa suhu di Goreme bisa sedingin ini. Dengan hati penuh kegembiraan yang meluap-luap kami menunggu jemputan tour balon udara, tidak lama pintu kamar diketuk, saya membuka pintu dengan wajah penuh senyuman bahagia, namun ternyata ketukan itu bukan ditujukan kepada kami, dia mencari orang lain dikamar sebelah :(


Kami terus dengan sabar menunggu, sebab menurut cerita Anisah dan Tiara kemarin jemputan mereka datang terlambat, namun hari mulai terang, menjelang pukul 5.30  pun naik kelantai atas dan mulai mengetuk pintu kamar Hasan si pemilik hotel, saya ingin menanyakan tour yang seharusnya menjemput kami namun dengan mata yang masi menutup dia hanya berkata mungkin hari ini balon tidak terbang.
APA ?!?!?! GA TERBANG !!!!! sayapun langsung mendumel " Enak aja lo ngomong ga terbang, bukannya bangun dan telepon pihak tour, lo ga tau tujuan utama kami datang tuh naik balon , bla bla bla"
Saya dan si partner langsung kesal luar biasa, karena penasaran kamipun mulai keluar dari hotel, ternyata langit goreme tertutup mendung, dan kami tidak melihat satupun balon udara yang terbang dilangit goreme. PERIH rasanya, sebab mimpi saya untuk melihat matahari terbit dari atas balon udara tidak terwujud T_T
Uang tour balon udara kami memang akan dikembalikan, namun rasa kecewa ini bukan masalah uang namun kesempatan, impian serta harapan kami yang pupus.
Rasa sedih, kesal, emosi campur aduk didalam hati dan pikiran kami, kamipun kembali kekamar dan masuk kembali kedalam selimut dan kemudian tidur.


Pukul 8.30 kami terbangun, kemudian naik keatas untuk sarapan pagi, saya sarapan mie instan Turki yang saya beli di minimarket tadi malam, sedangkan si partner sarapan indomie masi ditambah dengan sarapan dari hostel, hostel in memberikan sarapan yang sama setiap harinya. Hasan menghampiri saya ketika sarapan, dia mengatakan hari ini tidak ada balon udara sama sekali, saya meminta tolong untuk diusahakan balon udara untuk melihat matahari terbenam, namun tidak ada juga. Pupuslah sudah harapan saya untuk naik balon udara di Cappadocia:(


Hasan menawarkan untuk naik balon udara keesokan harinya dengan menunda penerbangan kami kembali ke Istanbul (kami sudah booking penerbangan kembali ke Istanbul untuk besok hari pukul 7.30), ide itu terdengar sangat bagus, sayapun mulai mencari tiket pengganti ,namun ternyata karena akhir pekan tiket lain menuju Istanbul sudah sangat mahal, harga terendah sudah mencapai 100USD (tiket kami dari Cappadocia menuju Istanbul hanya 17USD saat kami booking beberapa bulan sebelumnya), dan tidak ada jaminan besok cuaca bagus, sebab bila cuaca masi mendung seperti hari ini balon udara tetap tidak dapat terbang.
Dengan sedih hati kami memutuskan untuk tetap kembali ke Istanbul besok pagi, mungkin belum rejeki kami saat ini untuk naik balon udara, mungkin nanti kami diberi kesempatan untuk kembali lagi kesini :)


Jadwal kami hari ini mengikuti Green Tour, yang sudah saya pesan melalui Hasan dengan harga 100TL. Namun jemputan terlambat menjemput, ternyata dia lupa, padahal saat kami sarapan dia sudah datang dan menjemput traveler dari New Zealand, Pemberhentian pertama kami adalah Goreme Panoramic, dari sini kami dapat melihat pemandangan lembah goreme dari sisi lain yang ternyata jauh lebih cantik, dan yang menjadi spot foto favorit para pengunjungnya adalah pohon yang digantungi devil eyes dan hiasan balon udara.


Dari Goreme Panoramic, perjalanan dilanjutkan menuju Ihlara Valley, kami berjalan hampir sejauh 2 KM menyusuri lembah Ihlara yang ternyata sangat indah namun sunyi, pohon2 yang rimbun berwarna hijau dibingkai langit biru cerah benar2 menyejukkan mata pengunjungnya, cuaca dingin tidak terlalu terasa karena kami terus berjalan dan mendaki. Si partner yang penggemar bunga serta pohon sibuk memfoto semua pohon yang kami lewati. Di Ihlara Valley terdapat banyak gereja, saya melihat beberapa panah petunjuk arah menuju gereja, namun kami tidak mampir. 


Disini kami berkenalan dengan 2 orang peserta tour ini Akbar dari Pakistan, serta Parth dari India namun berdomisili di New York. Kami pun saling bertukar cerita mengenai perjalanan kami di Turki, serta berbagi pengalaman dan informasi, karena melihat hasil foto saya yang menurut mereka bagus, mereka pun meminta untuk difoto yang dilanjutkan dengan memberikan email dengan pesan foto minta tolong diemail.


Diujung Ihlara kami berhenti untuk makan siang disebuah restoran, makan siang termasuk dalam harga yang kami bayarkan ke tour, namun untuk minuman kami harus membayar sendiri, sebenarnya saat turun dari mobil, supir tour sudah memberikan kami sebotol air minum. Makan siang kami terdiri dari roti, salad dan sup, untuk menu utamanya kami boleh memilih antara ayam, sapi ataupun ikan yang dipanggang dan disajikan dengan nasi Turki.


Selesai makan siang, perjalanan dilanjutkan menuju Selime Monastery yang terletak di Aksaray. Selime Monastery dulunya dipakai sebagai tempat tinggal para biarawan, terdapat berbagai ruangan disini, mulai dari dapur, ruang gereja serta ruang tidur, dll. Untuk naik menuju ruangan tersebut kami harus menanjak naik dipermukaan batu yang tidak rata.
Pemandangan dari atas Selime Monastery sangatlah indah, kami dapat melihat pemandangan kota Aksaray dengan lebih jelas, serta gundukan batu Selime Monastery yang unik seperti goa2 kecil yang saling berkumpul. Diseberang Selime Monastery terdapat makam Selime.


Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Derinkuyu Underground City, yaitu kota dibawah tanah. Sebelum turun kebawah, disamping pintu masuk ada papan peringatan bagi yang memiliki sakit jantung, asma, serta phobia gelap dan ruangan sempit disarankan untuk tidak turun kebawah. Akses jalan menuju kota bawah tanah ini sangat kecil dan sempit, beberapa kali saya harus menundukkan kepala untuk dapat melewatinya, hawanya pengap dengan cahaya yang minim. 
Saat ini sudah banyak lampu2 kecil yang  dipasang untuk menerangi jalan yang dilewati pengunjung, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jaman dahulu kala ribuan orang tinggal didalam kota bawah tanah ini tanpa penerangan sama sekali.


Kota bawah tanah ini memiliki banyak sekali ruangan untuk menampung orang, ada ruang berkumpul, dapur, ruang yang dipakai sebagai gereja, bahkan juga kuburan, ya mereka memiliki kuburan disini, mayat dikumpulkan menjadi satu disalah satu pojokan ruangan.


Selasai kunjungan ke Derinkuyu kami diajak menuju toko perhiasan yang menjual turqoise turki, berbagai jenis aksesoris yang terbuat dari batu batuan tersedia disini, salah satu alasan saya tidak suka ikut tour adalah kami selalu dibawa ke toko2 seperti ini, karena tidak tertarik dan tidak berniat untuk membeli,maka sayapun memilih untuk kembali ke mobil. Saya menitipkan modem wi-fi saya kepada bapak supir untuk di charge di mobil.


Setelah semua peserta tour naik kedalam mobil, kamipun melanjutan perjalanan menuju Pigeon Valley, disebut Pigeon Valley karena disini banyak sekali pigeon yang berkumpul, kita harus melemparkan makanan bila ingin melihat para burung itu terbang, mereka biasanya terbang berombongan.
Dengan berakhirnya kunjungan kami di Pigeon Valley,maka berakhir sudah Green Tour kami hari ini. Supir pun mulai mengantarkan kami satu persatu untuk kembali ke hotel masing2. Setelah sampai di kamar saya baru menyadari modem wi-fi saya masih tertinggal dimobil, dengan panik saya pun kembali merepotkan Hasan untuk menghubungi pihak tour. Setelah 3x telepon dan menunggu hampir 2 jam, akhirnya saya mendapatkan kembali modem wi-fi saya. Terima kasih Hasan yang dengan sabar selalu menolong, dari subuh hingga malam hari sudah saya repotkan namun masi bisa tersenyum dan mengucapkan tidak apa2.


Rasa panik ketinggalan modem wi-fi sekarang digantikan dengan rasa lapar, maka saya dan si partner pun mulai melawan dingin dan berjalan keluar untuk mencari makan. Kami memutuskan untuk makan malam di Silk Road Restoran yang memiliki ruang tertutup dengan penghangat didalam. Kali ini si partner yang tertarik mencoba testi kebab (kebab dalam kendi tanah liat) sedangkan saya memilih untuk mencoba mixed grill yaitu campuran daging ayam,sapi serta sosis yang dibakar dan disajikan dengan nasi serta salad. Meskipun sudah ada nasi, kami tetap diberikan roti, bagi orang Turki makanan pokok mereka adalah roti bukan nasi, jadi makan tidak lengkap rasanya bila tanpa roti.


Berbeda dengan nasi yang saya makan sehari sebelumnya, ternyata nasi disini enak dan pulen, nasi terenak yang pernah saya makan!! salad yang diberikan juga enak dan segar. Si partner juga mengatakan enak, walaupun sebenarnya dia jauh lebih fokus dengan si mas Turki berjaket merah yang melayani kami, sambil makan matanya sesekali melirik manja ke si mas berjaket merah :D


Selesai makan kami tidak langsung beranjak pulang, kami masi duduk2 selama hampir 1 jam karena si partner masi betah, karena ini malam terakhir kami disini dan tidak ada aktifitas lain yang dapat kami lakukan lagi, sayapun menemani si partner untuk khilaf disini. Untungnya restoran sepi, sehingga kami tidak segera diusir :D


Pukul 9 malam kamipun pulang ke hostel, sudah ada 2 orang traveler asal Paris yang mengisi 2 ranjang kosong yang ditinggalkan teman2 kami. Kami segera membereskan semua barang kami, lalu tidur beristirahat, mengistirahatkan badan kami yang lelah serta jiwa kami yang kecewa.
Mimpi kami itu tetaplah menjadi mimpi yang menanti kesempatan lain untuk diwujudkan. 
Tapi jujur saja, jauh didalam hati saya berharap besokpun cuaca tidak memungkinkan untuk balon udara terbang, jadi saya tidak menyesal kembali ke Istanbul :D